Prolog
Sudah berapa lama aku terbaring lemah seperti ini?
1 hari? 2 hari? Atau beberapa tahun?
Aku rasa, aku tidak bisa mengingat itu semua.
Tidak ada lagi yang bisa ku ingat. Disini aku hanya
bisa terdiam sambil menatap kegelapan yang tidak berujung. Sebuah tempat yang
tidak dapat keluar dari sana.
Aku hanya bisa mengingat saat dimana semua nya menjadi
putih. Dan aku berakhir dalam tempat seperti ini.
Hmm? Apa ini? Sebuah tali? Ada sebuah tali merah yang
menancap di perut ku. Namun, aku tidak merasakan sakit sedikit pun.
Mungkin, ini semua hanyalah mimpi. “ iya, aku sekarang
sedang bermimpi dan tidak dapat bangung karena beberapa alasan.”
Tetapi, sejauh mata memandang. Hanya ada kegelapan dan
tidak ada seorang pun disini. Entah bagaimana aku merasa sangat kesepian.
“ Tu-Tunggu! Apa ini?.. “ sebuah guncangan hebat
terjadi. Tapi, itu hanya datang untuk sesaat.
Aku rasa, itu hanyalah sebuah geofisika murni yang
terjadi akibat bertabraknya lempeng-lempeng kerak tempat ku berpijak.
Ngomong-ngomong soal itu, entah mengapa, aku merasakan kaki lebih pendek dari
pada sebelum nya. Maksudku, aku bisa melihat ujung kaki ku dengan jelas. “
tunggu! Kaki?!” apa ini?... kenapa bisa ada kaki?
Dulu, aku adalah seorang yang sangat jahat. Ya, bisa
di bilang aku terbilang manusai yang jahat. Bahkan, kejahatan seorang iblis pun
tidak lebih buruk dari pada tindakan ku.
Mencuri? Membunuh? Memperkosa? Tidak, aku tidak
melakukan itu semua.
Aku hanya melakukan kesalahan besar yang bisa
menyebabkan dunia ini jatuh kedalam kehancuran.
===
Bisa di bilang, aku membuka sebuah segel para dewa
karena tidak sengaja. Maksudku, aku tidak sengaja membuka segel itu. Dan aku
tidak tahu kalau itu adalah segel. Lagi pula, saat itu aku masih anak-anak.
Sudah sewajar nya anak kecil mempunyai sifat ingin tahu.
Namun, aku tidak menyangka hal itu akan membawa
bencana bagi dunia.
Setelah segel itu terbuka.
Samar-samar, sebuah aura gelap mulai merembes keluar
dari balik sisi pintu. Dan semakin lama, aura gelap itu berkumpul menjadi
sebuah gumpalan besar yang menjijikan.
Itu adalah sebuah gumpalan yang sangat besar. Sangat
besar hingga ia menutupi seluruh dunia dengan kegelapan.
Pada hari itu, panas matahari sedang posisi di paling
tinggi. Dan tidak ada sedikit pun awan yang menghalangi sinar nya. Namun, gumpalan
itu dengan cepat menutupi seluruh langit dengan warna hitam nya. Sehingga dunia
menjadi gelap seperti malam hari.
“ oh iya, jika aku ingat-ingat.. saat itu, aku sedang
menjemur pakaian ku.” Tapi pada saat itu, aku tidak bisa mengkhawatirkan baju ku.
“ aku harus segera kembali ke kota..!” dengan sekuat
tenaga, aku berlari menuju kota terdekat. Terus berlari, dan terus berlari.
Entah mengapa, rasanya ada yang aneh.
Selain tidak memakai baju, aku hanya mempunyai 1 kaki
utuh. Namun, kenapa aku bisa semudah ini untuk berlari menggunakan kaki kayu
ini?..
“ Ah lupakan! Aku harus cepat kembali ke kota.” Entah
apa yang merasuki pikiran ku saat itu, aku tidak bisa memikirkan hal lain
selain pergi ke kota. Padahal, aku sudah
tidak punya siapapun yang bisa ku anggap sebagai keluarga.
Mungkin, jauh di dalam hati ku. Aku masih ingin
memiliki mimpi itu. Sebuah mimpi dimana aku masih seorang anak kecil berusia 4
tahun. Dimana aku bisa membunuh banyak monster dan iblis. Hingga orang-orang
akan memanggil ku seorang pahlawan.
Ya bisa di bilang, aku hanya anak-anak saat itu.
Walau, saat ini aku hanya seorang anak kecil yang ber usia 10 tahun. Aku hanya
bisa melupakan mimpi itu. Dan terus berpikir positif untuk kehidupan ku esok
hari.
Jika aku mengingat nya, aku ingin tertawa. Seorang
anak kecil yang bermimpi untuk menjadi pahlawan. Kini sudah berubah menjadi
seorang anak kecil yang berusaha untuk tetap hidup dan terus memikirkan caranya
untuk hidup hingga esok hari.
Pada saat itu, aku terus berpikir. Kenapa aku terus
berlari menuju kota? Padahal aku sedang tidak memakai baju dan pasti aku akan
di usir. Tapi, aku tidak bisa melupakan semua itu.
Di saat Dunia sudah menjadi gelap dan hitam. Tidak ada
sedikit pun suara burung berkicau. Bahkan, hembusan angin yang biasanya sangat
terasa di balik lereng bukit. Kini tak ada.
Hanya ada kehampaan dan kegelapan yang menyelimuti
dunia.
Matahari tak luput dari kejaran aura hitam tersebut.
Aura itu membungkus matahari dengan warna nya, dan merubah matahari menjadi
gumpalan bola hitam yang memancarkan sinar merah.
Sinar merah yang sangat terang, warnanya membuat
rumput-rumput menjadi merah.
Namun, warna itu lebih melambangkan sebuah darah.
Benar sekali. Sebuah warna yang sangat mirip dengan
darah.
Kini, rumput rumput dan tumbuhan mulai mengering.
Seperti, nyawa mereka terhisap secara perlahan.
Orang-orang yang menyaksikan semua ini, tak luput dari
keributan. Semua nya lari dan panik. Menyebabkan kekacauan yang melanda setiap
wilayah.
Mereka semua percaya, kalau langit hitam seperti ini
adalah pertanda datang nya pasukan iblis yang akan menghancurkan keseimbangan
dunia.
Semua orang kini sudah tidak peduli dengan apapun.
Mereka hanya mempedulikan diri mereka sendiri. Makanan, harta bahkan keluarga.
Mereka sudah tidak peduli lagi. Banyak orang saling mendorong satu sama lain
dan berlari menuju keluar kota.
Banyak yang tidak kuat dan kalah tenaga terjatuh.
Terinjak-injak oleh yang lainnya. Perempuan maupun laki-laki, tua maupun muda.
Mereka semua berlomba untuk keluar dari sana. Dan mereka yang tidak sanggup
hanya bisa menunggu ataupun melawan hingga jatuh lalu mati terinjak.
Semua nya, aku masih ingat dengan jelas. Mereka
memasang raut muka yang sangat ketakutan dan mereka semua seperti ingin
menangis. Memohon agar bisa selamat dari semua ini.
Aku yang menyaksikan semua itu dari luar hanya bisa
berkata dalam hati “ sungguh indah..” benar sekali..! sungguh pemandangan yang
sangat indah.
Bisa melihat mereka semua memasang muka aslinya. Dan
bagaimana mereka meninggalkan semua nya hanya untuk diri mereka sendiri.
Manusia memang menarik.
Sudah berapa lama aku melihat ini semua? Aku rasa,
mungkin sudah sangat lama. Mengingat rombongan yang saling mendorong itu
semakin berkurang jumlah nya. Dan mayat-mayat yang berjatuhan sudah semakin banyak.
“ ah, ada bayi manusia lagi yang jatuh…” sungguh
indah. Melihat manusia yang masih kecil dan terbilang sangat muda.
Aaaaaaaaah..! tidak tahan… aku tidak bisa menahan nya…!!
Sungguh indah..!! di saat bayi-bayi itu jatuh dan
badan mereka hancur terinjak oleh orang dewasa. Bahkan, kepala mereka putus dan
tidak berbentuk lagi. Ada juga ibu mereka yang menyelamatkan bayi nya dengan
mendekap bayi itu kedalam badannya.
“ huh?.. kenapa aku bisa segembira ini?...” aku
merasa, ada yang aneh… kenapa aku bisa sangat gembira di saat orang lain sedang
bersusah payah untuk menyelamat kan diri.
Di saat dalam kebingungan itu, aku melihat sebuah
cahaya yang seakan menarik diriku. Mata ku tak kuasa untuk melihat langsung ke
arah cahaya itu. Dan memalingkan pandangan.
Setelah beberapa saat, aku kembali lagi di depan pintu
yang tersegel. Namun “ sejak kapan pintu itu terbuka lebar?..” pintu yang tadi
nya tertutup rapat. Kini sudah terbuka lebar. Ukuran nya sangat besar dan
tinggi nya bisa sampai 3 meter.
Aura hitam itu masih terus keluar dari dalam ruangan
itu. Dan semakin menumpuk di langit.
“ sepertinya kamu sudah bangkit ya..”
Siapa itu?!
Tanpa aku sadari, ada seseorang- tidak! Mereka 2
orang.
Itu, seorang kakek dan 2 orang gadis muda. Mereka
tampak seperti manusia biasa. Tapi, tubuhku tidak mau berhenti bergetar.
Kakek itu menatap bingung dan mengusap janggut nya. “
Hmm?.. ada apa? Kamu sudah lupa caranya berbicara?..”
Ada apa ini?.. aku tidak paham dia berbicara apa.
Tapi, aku mengerti semua yang dia katakan. Kakek ini, sangat tidak wajar.
Di tambah, dua orang gadis muda itu. Mereka bukanlah
manusia biasa. Mereka memakai set perlengkapan armor lengkap. Seperti pasukan
elite yang menjaga raja sebuah kerajaan. Di tambah, apa-apaan dengan bulu yang
menancap di helm nya?.. apakah itu sebuah model?
Yang terpenting, aku harus membalas mereka dan- !
Tubuhku..! tidak bisa ku gerakan. Bahkan suara ku!?
Tidak mau keluar.
“ Keh..! Kehahahahaha kakek tua! Kau semakin bangsat
saja rupanya..!” sebuah suara asing. Keluar dari mulut ku?! Dan tubuhku
bergerak sendiri?!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar